Rabu, 01 April 2015

Ini tentang mereka.

Awalnya mereka terlalu percaya diri. Merasa bahwa pilihannyalah yang akan melenggang mulus menuju pucuk singgasana. Yang akan dihadapi bukanlah lawan yang sepadan, begitu pikir mereka.
Kepercayaan diri yang berlebihan. Mereka simpan di mata, mulut, dan ditancapkan di sanubari mereka. Yakin pasti jadi.

Begitu "pertarungan" selesai mereka shock. Kaget. Kecewa. Mau marah dilampiaskan kpd siapa?
Jagoannya kalah. Sosok yang gagah dan berwibawa (gw pun mengakui), dan pantas untuk memimpin (yang ini gw ga setuju) kenyataannya kalah oleh sosok yang mereka anggap klamar klemer, penyinyian, tak berwibawa sama sekali, sosok kurus kerempeng yang mereka hina-hinakan.
Sungguh malu mereka.
Dimanakah keadilan?....

Mulailah runtuh rasa kepercayaan diri. Mereka yang seolah-olah sedang terbang menari-nari di langit, tiba-tiba harus turun lagi ke bumi. Terhempas. Menghujam.
Berubahlah mereka. Hilang kepercayaan diri, berganti menjadi amarah. Malu yang teramat sangat mereka tutupi dgn topeng ambisi yang lain. Tak sudi bagi mereka mendukung pemerintah.  Bergandengan tangan lg mereka teriakkan satu kata:
TURUNKAN!
TURUNKAN!
TURUNKAN!
Tidak ada lg wajah-wajah optimis. Mereka menggantinya dgn wajah pucat. Mulut mereka selalu mengeluh seolah mereka paling menderita. Baik atau benar buat mereka kebijaksanaan pemerintah adalah salah. Merekalah yang paling benar.

Mereka mengeluh ttg kenaikan BBM. Mengakibatkan mereka tdk bs lg trek-trekan motor yang menguras bensin.
Mereka berkeluh kesah menderita dgn naiknya tarif angkutan umum sambil menyeruput kopi yg tdk murah harganya di starbuck, sevel, kongkow-kongkow habis main billyard.
Seorang murid SMA mengeluh di status FB nya ttg menteri pendidikan yg tdk cakap, sambil sembunyi merokok di WC, menghindari pelajaran fisika. Pusing, pacarnya hamil.
Mereka mengeluh. Menderita. Di koridor, di ruang makan, di tempat merokok, di musholla, di koperasi, di polkar, di ruang serikat.
Kasihan sekali hidup mereka.
Kasihan, kasihan, kasihan...

(Sudahlah, gw ga mau dianggap menari-nari diatas sesuatu yang mereka anggap penderitaan).
Ntar kapan gw lanjutin ceritanya. Sambil menari-nari, sambil menginjak bumi. Pake topeng Upin Ipin:
Kasian...kasian...kasian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar