Senin, 06 April 2015

Hidup

Kalau kehidupan bisa mati
Kenapa tdk dgn hasrat berjudi?

Hampa #2

Aku menyimpan bara
Sedikit saja terpantik
Akan menyala

Mana yg lebih dulu musnah
Aku
Atau
Bara
???
....

KAU dimana?

....buntu!
.....mengurat!
Ga bisa berpikir jernih beberapa hari ini...

Ada dimana KAU saat ini?

Aku percaya janji-MU
Tentang wanginya pagi
dan hangatnya mentari jelang senja.
Aku jg percaya
KAU selalu ada di setiap hela nafas dan kedipan mata..

---------------

Hari ini
Malamku kelam
Jiwaku hitam

KAU ada dimana?

Hampa

Dada bergemuruh hati meluruh
Jalan terhampar tanpa arah
Ada dimana KAU saat ini?

Tlah kutinggalkan sesuatu yg bernama lembah hitam
Tlah kulupakan perjamuan setan
Tlah kutanggalkan jubah kelam
Tangan berlumur jelaga comberan
Demi menemui jalan-MU
Tapi
Ada dimana KAU saat ini?

Aku tak mau mati meninggalkan hutang

Rabu, 01 April 2015

Ini tentang mereka.

Awalnya mereka terlalu percaya diri. Merasa bahwa pilihannyalah yang akan melenggang mulus menuju pucuk singgasana. Yang akan dihadapi bukanlah lawan yang sepadan, begitu pikir mereka.
Kepercayaan diri yang berlebihan. Mereka simpan di mata, mulut, dan ditancapkan di sanubari mereka. Yakin pasti jadi.

Begitu "pertarungan" selesai mereka shock. Kaget. Kecewa. Mau marah dilampiaskan kpd siapa?
Jagoannya kalah. Sosok yang gagah dan berwibawa (gw pun mengakui), dan pantas untuk memimpin (yang ini gw ga setuju) kenyataannya kalah oleh sosok yang mereka anggap klamar klemer, penyinyian, tak berwibawa sama sekali, sosok kurus kerempeng yang mereka hina-hinakan.
Sungguh malu mereka.
Dimanakah keadilan?....

Mulailah runtuh rasa kepercayaan diri. Mereka yang seolah-olah sedang terbang menari-nari di langit, tiba-tiba harus turun lagi ke bumi. Terhempas. Menghujam.
Berubahlah mereka. Hilang kepercayaan diri, berganti menjadi amarah. Malu yang teramat sangat mereka tutupi dgn topeng ambisi yang lain. Tak sudi bagi mereka mendukung pemerintah.  Bergandengan tangan lg mereka teriakkan satu kata:
TURUNKAN!
TURUNKAN!
TURUNKAN!
Tidak ada lg wajah-wajah optimis. Mereka menggantinya dgn wajah pucat. Mulut mereka selalu mengeluh seolah mereka paling menderita. Baik atau benar buat mereka kebijaksanaan pemerintah adalah salah. Merekalah yang paling benar.

Mereka mengeluh ttg kenaikan BBM. Mengakibatkan mereka tdk bs lg trek-trekan motor yang menguras bensin.
Mereka berkeluh kesah menderita dgn naiknya tarif angkutan umum sambil menyeruput kopi yg tdk murah harganya di starbuck, sevel, kongkow-kongkow habis main billyard.
Seorang murid SMA mengeluh di status FB nya ttg menteri pendidikan yg tdk cakap, sambil sembunyi merokok di WC, menghindari pelajaran fisika. Pusing, pacarnya hamil.
Mereka mengeluh. Menderita. Di koridor, di ruang makan, di tempat merokok, di musholla, di koperasi, di polkar, di ruang serikat.
Kasihan sekali hidup mereka.
Kasihan, kasihan, kasihan...

(Sudahlah, gw ga mau dianggap menari-nari diatas sesuatu yang mereka anggap penderitaan).
Ntar kapan gw lanjutin ceritanya. Sambil menari-nari, sambil menginjak bumi. Pake topeng Upin Ipin:
Kasian...kasian...kasian.

Buka Toko

Dengan mengucap Bismillahirrahmaanirrahiim, toko Dhifa-Rabbanii resmi dibuka di area pertokoan seluas dunia maya Tokopedia. Sempatkanlah berkunjung ke toko gw. Barang-barang yang saat ini tersedia adalah Rak sepatu, Kran air otomatis, Lampu LED, dan Charger mobil yg bisa disambungkan dgn kabel roll. Baru sedikit memang, tp mudah-mudahan yg sedikit ini bs membawa berkah.
Insya Allah.