Jumat, 21 Februari 2025

Lelah

Lelah
Ya hanya lelah
Bukan (belum) berkah
Setelah jauh melangkah
Hanya lelah

Menengok ke belakang
Derit roda besi berkarat
Ku tinggalkan
Setengah maju perjalanan, aku mundur lagi
Ku hampiri 
Derit roda besi berkarat
Lalu diam

Lelah
Ya cuma lelah saja
Tiada guna

Kamis, 12 September 2024

Entahlah

Hidup kadang terlalu nyaman buat sebagian orang. Tapi tidak bagi sebagian lainnya. Ada yang tinggal di awan sementara yang lain di bumi hidup dengan tekanan. Jangan menentang. Itu sudah digariskan bahkan sebelum bumi diciptakan. Jalani, syukuri.
Lalu hujan turun membasuh bumi, menciptakan kesejukan buat semesta. Adem. Tapi tidak menyembuhkan luka. Serahkan saja pada Waktu. 
Dengan atau tanpa semangat, kehidupan harus terus berjalan dengan semua kondisi yang telah digariskan-NYA.

Kamis, 29 Agustus 2019

Belum Rezeki

30/8/19.
Tanah itu jadi dibangun. Tanah yang sangat diincar dan berharap banget bisa dimiliki sekarang sudah menjadi hak orang.

Luas 90 m2, harga 150 juta. Posisi persis depan rumah. Murah. Harusnya bisa gw milikin. Harusnya. Dengan posisi gw kerja berdua harga segitu semestinya bisa dijangkau.

Tapi "dosa-dosa" itu menghadangnya. Coba diutak-atik mencari jalan tetap buntu.

Gw kalah. Dan terluka. Menunggu akhir tahun semoga ada jalan.

-------------------

Seiring waktu hampir terlupa soal tanah. Luka hampir sembuh.

Sampai minggu lalu ada kabar bahwa tanah itu sudah terbeli. Dan mau dibangun. Luka itu tergores lagi. Ingatan bahwa pernah punya keinginan untuk memiliki tanah tersebut kembali terngiang meski tidak se-ambisi saat awal. Menyesal. Tapi mau gimana lagi. Sudah laku.

Maka kubiarkan luka mengering.

________________

Dan hari ini tanah itu benar-benar akan dibangun. Pemiliknya datang.

Satu kesalahan yang baru saja gw lakuin adalah bercerita segamblangnya kepada tetangga tentang bagaimana proses gw berusaha mendapatkan tanah itu dan gagal. Ternyata malah jadi bumerang.

Kenapa nggak bilang-bilang?

Kenapa nggak diambil pak, murah itu..

Coba dulu diambil, dirapiin lalu dijual lagi, pasti untung.

Dan bermacam omongan yang menimbulkan gejolak di dada. Merendahkan. Dan olok-olok.

Menghadapi kenyataan  bahwa gw gagal memiliki tanah --yang murah dan posisi persis depan rumah-- itu, ditambah omongan mereka menanggapi kegagalan tersebut malah jadi makanan yang tidak enak untuk disantap. Getir.

Menimbulkan luka lagi.
____________________

Betapa polosnya gw. Malah membuka kebodohan sendiri.

____________________________________________________________________________________

Nggak lah. Gw nggak bodoh. Bodoh hanya anggapan mereka. Mereka tidak tau betapa gw sudah berusaha untuk mendapatkannya. Sampai pada satu kesimpulan bahwa memang belum rezeki. Iya, belum rezeki.

Allah sedang menyiapkan rezeki lain yang lebih baik untuk gw. Gw yakin dengan hal ini.

Allah sebaik-baik pemberi rezeki.

Allah yang Maha Menentukan atas segala sesuatu.

Allah belum mengizinkan untuk gw memiliki tanah itu, karena mungkin Allah tidak ingin gw terbelit hutang yang lebih banyak lagi nantinya. Allah mencukupkan satu rumah beserta isinya saat ini sebagai rezeki gw.

Allah akan menambah rezeki yang lain nanti jika gw bisa lebih bersyukur.

Allah Maha Baik.

Allah sebaik-baik pemberi rezeki.

Insya Allah.

Amiiin ya Rabbal 'alamiin.

Kamis, 27 Juli 2017

Gundah

Ibuku surga
Istriku surga
Anak-anakku surga
Tapi aku malah menciptakan neraka.

Bisu

Istriku, aku ingin bicara
......
....
...
.........
Lalu semuanya hening.

Senin, 06 Februari 2017

Pusing tanpa wujud

24 jam sehari
7 hari seminggu

Kepala gue
Kantor paling sibuk sedunia!

Selasa, 09 Agustus 2016

Surga dan Neraka

Dua orang wanita, sama-sama membawa surga di telapak kakinya. Satu wanita, telapak kakinya adalah surga untukku. Seorang lg telapak kakinya adalah surga untuk anak-anakku.
Betapa mulia mereka.

Aku malah menciptakan neraka buat mereka.
Betapa hinanya aku.